Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change Mendengarkan Suara Lansia untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik di Indonesia
10 October 2026
Dalam konteks Indonesia, pesan tersebut menjadi relevan ketika dikaitkan dengan kehidupan lansia. Mereka bukan sekadar kelompok yang membutuhkan perhatian dan perlindungan, melainkan individu dengan pengalaman, pandangan, kebutuhan, dan hak untuk menentukan bagaimana mereka ingin menjalani masa tuanya.
Menjadi lansia merupakan bagian alami dari perjalanan hidup, tetapi proses penuaan dapat membawa berbagai perubahan yang memengaruhi kesejahteraan psikologis. Pensiun, kehilangan pasangan atau teman sebaya, perubahan kondisi kesehatan, keterbatasan mobilitas, serta berkurangnya peran dalam keluarga dan masyarakat dapat memunculkan perasaan kehilangan, kesepian, hingga hilangnya tujuan hidup.
Kondisi tersebut tidak berarti setiap lansia pasti mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, berbagai perubahan itu dapat menjadi faktor risiko, terutama ketika lansia tidak memiliki dukungan sosial yang memadai atau kesulitan mengakses layanan kesehatan dan pendampingan yang dibutuhkan. WHO juga mengidentifikasi kesepian dan isolasi sosial sebagai faktor risiko penting bagi kesehatan mental pada usia lanjut.
Di Indonesia, tantangan ini perlu dipahami melalui beragam situasi kehidupan lansia. Ada lansia yang tinggal bersama keluarga, tetapi jarang memiliki kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati. Ada pula yang tinggal sendiri dan harus menjalani rutinitas sehari-hari tanpa pendampingan yang konsisten. Sebagian lainnya tetap aktif dan mandiri, tetapi menghadapi kecemasan mengenai kesehatan, kondisi ekonomi, atau masa depan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan lansia di tengah keluarga tidak selalu menjamin terpenuhinya kebutuhan emosional mereka. Kehadiran fisik perlu disertai perhatian, komunikasi yang bermakna, dan kesediaan untuk memahami pengalaman mereka tanpa menghakimi.
Salah satu inti tema World Mental Health Day 2026 adalah pengakuan bahwa pengalaman hidup merupakan sumber pengetahuan yang penting. Dalam isu kesehatan mental lansia, prinsip ini mengajak keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dan pembuat kebijakan untuk tidak hanya menentukan apa yang dianggap terbaik bagi lansia, tetapi juga mendengarkan apa yang benar-benar mereka butuhkan.
Misalnya, ketika seorang lansia lebih sering menyendiri, perilaku tersebut tidak seharusnya langsung dianggap sebagai hal yang wajar karena faktor usia. Bisa jadi, ia sedang berduka, merasa kehilangan peran, mengalami kesulitan beradaptasi, atau membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita. Demikian pula, ketika lansia berulang kali menceritakan pengalaman masa lalunya, percakapan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memahami hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
Mendengarkan pengalaman lansia bukan berarti mengasihani mereka. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk penghormatan terhadap identitas, kemandirian, dan hak mereka untuk menyampaikan pendapat. Pengalaman setiap lansia pun berbeda sehingga tidak tepat apabila kebutuhan seluruh lansia disamaratakan.
Sejalan dengan tema tahun ini, keterlibatan lansia harus melampaui kegiatan berbagi cerita. Pengalaman mereka perlu menjadi pertimbangan dalam merancang program pendampingan, meningkatkan akses layanan kesehatan mental, membangun lingkungan yang ramah lansia, hingga menentukan bentuk dukungan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. WHO menekankan bahwa keterlibatan bermakna memungkinkan orang dengan pengalaman langsung memengaruhi kebijakan dan layanan yang berdampak pada kehidupannya.
Pentingnya isu ini semakin terlihat ketika Indonesia memasuki fase ageing population. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97% dari total penduduk Indonesia. Angka tersebut menegaskan bahwa kebutuhan dan kesejahteraan lansia perlu menjadi bagian penting dari perencanaan pembangunan, termasuk dalam aspek kesehatan mental.
Pertambahan jumlah lansia perlu diimbangi dengan perubahan cara pandang masyarakat terhadap penuaan. Lansia bukan semata-mata kelompok yang membutuhkan bantuan, melainkan individu yang tetap memiliki kapasitas untuk berpartisipasi, mengambil keputusan, berbagi pengetahuan, dan berkontribusi bagi lingkungannya.
Sayangnya, ketika perhatian lebih banyak diarahkan pada kebutuhan fisik, kebutuhan emosional dan sosial dapat luput dari perhatian. Lansia mungkin mendapatkan makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal yang layak, tetapi belum tentu memperoleh ruang untuk mengungkapkan kecemasan, kesedihan, atau keinginannya. Padahal, kesehatan mental juga berkaitan dengan rasa memiliki, hubungan sosial yang bermakna, dan kesempatan untuk tetap menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai pribadi.
Oleh karena itu, keluarga dan masyarakat perlu membangun hubungan yang tidak hanya berorientasi pada perawatan, tetapi juga pada pemberdayaan. Memberikan kesempatan kepada lansia untuk menyampaikan pendapat, menentukan aktivitas sehari-hari, terlibat dalam kegiatan komunitas, serta mengambil keputusan yang menyangkut dirinya merupakan langkah konkret untuk menjaga martabat dan kesejahteraan psikologis mereka.
Mewujudkan pesan “Real Voices, Real Change” tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Perubahan dapat tumbuh melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Di lingkungan keluarga, luangkan waktu untuk berbincang tanpa terburu-buru, dengarkan tanpa menghakimi, dan tanyakan apa yang mereka rasakan maupun butuhkan.
Di lingkungan masyarakat, ciptakan kegiatan yang memungkinkan lansia berinteraksi, berbagi pengalaman, serta tetap berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Dalam layanan kesehatan, perhatikan aspek psikologis dan sosial saat memberikan perawatan, bukan hanya keluhan fisik yang terlihat.
Dalam kebijakan dan program lansia, libatkan lansia secara langsung sejak tahap perencanaan hingga evaluasi agar program yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan mereka.
Langkah-langkah tersebut juga perlu disertai upaya mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan mental. Kesedihan berkepanjangan, kecemasan, atau hilangnya minat terhadap aktivitas sehari-hari tidak seharusnya selalu dianggap sebagai bagian normal dari bertambahnya usia. Apabila kondisi tersebut menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari, lansia perlu mendapatkan penilaian dan dukungan profesional yang sesuai.
Pada akhirnya, mendengarkan lansia bukan hanya tentang memberikan kesempatan untuk berbicara, tetapi juga kesediaan untuk mengubah cara kita memperlakukan mereka. Suara lansia perlu hadir dalam percakapan keluarga, kegiatan masyarakat, layanan kesehatan, dan keputusan yang menentukan kualitas hidup mereka.
Temukan kami di sosial media: